3 LEVEL KOGNITIF YANG DIUJI DALAM SOAL USBN TAHUN 2018

PGRI.info; Selama ini kebanyakan para guru, termasuk penulis  membuat soal dengan cara langsung  membuat perintah dengan kata kerja operasional (KKO)  “ Sebutkan”, “Jelaskan”, “Tuliskan”, atau “Bedakan” yang kemudian diikuti dengan materi yang ingin diujikan kepada siswa. Dari berbagai perintah tersebut kebanyakan kita hanya menuntut siswa menguasai pengetahuan dan pemahaman sebuah konsep, dimana hanya menuntut siswa untuk  me“recall” atau mengingat kembali materi yang telah diajarkan oleh guru. Sehingga siswa tidak dibiasakan untuk mengaplikasikan dan menalar sebuah konsep. Hal ini berpengaruh terhadap mutu pendidikan di Indonesia yang masih berada di bawah jika dirangking dengan negera-negara lain.

Menurut Rangking dari PISA, dari tahun ke tahun posisi Indonesia menduduki rengking 5 terbawah dalam hal membaca, matematika, dan sains. Sampai tahun 2012 Indonsesia berada pada rengking 61 dari 65 negara dalam hal membaca, 64 dari 65 negara dalam hal matematika, dan 64 dari 65 negara dalam hal sains. Keadaan ini yang mengundang keprihatinan dari berbagai pihak , terutama pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Oleh karena itu beberapa tahun terakhir  mulai dikembangkan soal-soal yang menuntut kemampuan siswa untuk mengaplikasikan dan menalar sebuah konsep.

Penulisan soal USBN tahun ini juga mengacu pada kemampuan tersebut, yang disajikan dalam sebuah Blue Print Kisi-kisi yag telah dikeluarkan oleh  Puspendik  Kemdikbud. Pada Kisi-kisi tersebut telah ditentukan bahwa soal-soal yang dibuat menuntuk pada 3 level kognitif  seorang siswa, yakni: a) Level 1, yaitu level memahami dan meguasai sebuah konsep, b) level 2, yaitu level dapat mengaplikasikan sebuah konsep, dan c) level 3, yaitu level menalar sebuah konsep

Berikut disajikan contoh soal yang termasuk dalam ketiga macam level tersebut:

Disajikan sebuah bacaan/informasi:

” Mendonorkankan darah adalah kegiatan yang sangat penting. Tidak ada satupun produk yang dapat menggantikan darah manusia sepenuhnya. Donor darah tidak tergantikan dan dapat menyelamatkan hidup manusia. Di Perancis setiap tahunnya ada 500.000 pasien memanafaatkan transfusi  darah.

Alat-alat yang diperlukan untuk transfusi darah harus steril dan untuk sekali pakai.

Darah diambil dari kantong darah 450 ml, setelah sebelumnya diambil sedikit untuk sampel sebagai bahan pemeriksaan dan pengetesan

Seorang pria dapat mendonorkan darah 5 x dalam setahun, dan seorang wanita 3 x dalam setahun. Donor harus berumur 18 s/d 65 tahun. Diwajibkan menunggu 8 minggu untuk sebelum menyumbang darah berikutnya ”

Dari bacaan tersebut, dapat dibuat 3 macam soal sebagai berikut:

1.Pertanyaan level 1 (pengetahuan dan pemahaman)

Berdasarkan bacaan, mengapa donor darah tidak dapat tergantikan? Sebutkan sebuah kaliamat yang dapat menjelaskan alasannya.

Tujuan pertanyaan: a) Mengakses dan memperoleh informasi dan b) menemukan informasi yang dinyatakan secara eksplisi dalam sebuah bacaan/iklan

Pertanyaan level 2 (aplikasi)
Seorang wanita berumur delapan belas tahun sudah mendonorkan darahnya sebanyak dua kali pada dua belas bulan terakhir, dan ingin mendonorkan darahnya lagi. Menurut bacaan “ Donor Darah” pada kondisi bagaimanakah wanita tersebut dapat mendonorkan darahnya lagi?

Tujuan pertanyaan: a)mengintegrasikan dan mengiterpretasikan: mengembangkan interpretasi dan 2)membuat hubungan antar teks pendek untuk membuat kesimpulan

Pertanyaan Level 3 (penalaran)
Bacaan mengatakan “ Alat-alat yang diperlukan untuk donor darah harus steril dan untuk sekali pakai” mengapa bacaan itu memberikan informasi ini?

Tujuan pertanyaan:  Melakukan refleksi dan evaluasi isi bacaan

Soal Level 3  dapat dikembangkan menjadi soal HOTS (Higher Order Thingking Skill). Mengenai ini akan saya tulis pada kesempatan berikutnya.

(sumber : Materi Pelatihan Penulisan Soal USBN, Puspendik Kemdikbud) copas dari blog nursbio.
Comments
0 Comments

0 komentar