Tanggapan IGI tentang Statemen "PGRI Diaborsi Perlahan"

Sebelumnya beredar Bahan  Renungan  Menjelang  HUT PGRI 71 PGRI Diaborsi Perlahan Oleh : Dr (Cand) Dudung Nurullah Koswara, M.Pd (Ketua PGRI Kota Sukabumi), dipublikasikan di facebook oleh akun bernama Suhardin Bima, kemudian ditanggapi oleh pengurus pusat IGI melalui akun facebook.

TIDAK BENAR jika ada yang memberitakan IGI vs PGRI, organisasi profesi guru bukan ajang untuk bertarung seperti petinju.

Berikut tanggapan lengkap dari pengurus pusat IGI: 
Saudaraku Suhardin Bima yang sedang gulana dan tersulut api angkara. Mari kita belajar hidup lebih baik dengan membuka mata hati dan jiwa. Jangan karena panasnya hati kata demi kata yang terangkai menjadi penuh syak wasangka. Jangan karena keengganan menelisik sejarah ucapan cerminan hati menjadi membabi buta. Kita ini masih guru dan ada banyak pilihan kata yang menunjukkan kualitas keguruan kita.
Wahai saudaraku ketahuilah bahwa

  1. TPG itu digagas dan dibahas oleh banyak penggiat pendidikan, orang-orang IGI adalah bagian besar pembahas TPG. Saat itu cikal bakal IGI masih bernama KGI (klub guru Indonesia) yang diketuai Ahmad Rizali. KGI telah lahir sejak tahun 2000 dan TPG diundangkan tahun 2005, amat sangat jelas peran orang-orang KGI saat itu meskipun banyak yang bergerak tanpa mengatas namakan KGI.
  2. Anda akan kesulitan memperlihatkan fakta jelas yang menunjukkan bahwa TPG adalah hasil murni perjuangan PGRI, jika PGRI telah lahir sejak tahun 1921, mengapa TPG baru terwujud 2006? Jadi TPG hasil perjuangan PGRI adalan bentuk klaim tak beralasan oleh mereka-mereka yang menunggangi organisasi guru yang sejatinya bukanlah guru, lalu mereka menggunakan klaim itu untuk mengancam dan mengintimidasi guru dan menuduh guru berutang pada PGRI. Bayangkan, berapa milyar dana yang sudah ditarik dari guru sejak TPG dicairkan? Begitu banyak dalih yang terlontar hanya untuk menarik dana guru yang sesungguhnya memang sudah menjadi hak guru.
  3. Meminjam istilah salah seorang eselon satu kemendikbud "apa yg diperjuangkan PGRI soal TPG, mereka itu sekedar diundang untuk hadir, bukan berjuang". Siapa yang seharusnya MALU kalau faktanya seperti itu. Siapa yang pantas disebut pencuri jika hasil perjuangan orang lain diaku-akui?
  4. Durhaka? Siapa yang lebih durhaka dari sosok yang mengklaim sebagai pengayom tetapi justeru memotong? Siapa yang lebih berani melanggar perintah Tuhan dari persekutuan atas nama memperjuangkan kesejahteraan dan anti pungli tapi justeru memaksa mengambil tanpa hak TPG tanpa pertanggung jawaban? Lalu murtad? Iya kami memang murtad untuk menuju cahaya hidayah kemerdekaan sebagai guru sejati yang tidak belepotan politik, klaim sepihak, atau penindasan. Kami tidak ingin meninggalkan generasi lemah di belakang hari. Karenanya kami siap diuji profesi dan senantiasa menjadi pembelajar sejati. Bukan mereka yang menikmati zona nyaman dan terperangkap dalam janji-janji manis kesejahteraan dengan melupakan kualitas diri dan martabat untuk kembali kepada marwah guru sejati.
  5. Kini saatnya PGRI itu dikembalikan ke Guru, bukan ditunggangi Dosen, Birokrat Atau Pensiunan. Jika bukan lagi guru, lepaskan PGRI karena PGRI adalah Persatuan Guru Republik Indonesia, bukan Persatuan Pensiunan Guru Republik Indonesia, bukan pula Persatuan Dosen Republik Indonesia,apalagi persatuan birokrat republik indonesia.

Kita tidak ingin bertengkar atau bermasalah dengan siapapun, tapi kita perlu mengklarifikasi jika dibutuhkan, ini tanggapan tegas dari Sekjen IGI Pusat Mampuono.

PGRI.info hanya mengabadikan tulisan-tulisan yang beredar di facebook, twitter, supaya guru Indonesia semakin cerdas mau membaca informasi tidak hanya dari salah satu pihak, tapi dari kedua pihak, yang selanjutnya dikembalikan ke diri pribadi Guru masing-masing supaya bisa mengambil sikap untuk lebih baik, tidak ada maksud memecah belah persatuan Guru di Indonesia.
Comments
0 Comments

0 komentar