Gagalnya Kudeta Baju Putih

Gagalnya Kudeta Baju Putih
Oleh : Dr (Cand) Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Dinamika organisasi profesi guru dua tahun terakhir ini semakin gaduh pasca dibuat boneka organisasi profesi baru karya Anies Baswedan ketika menjadi Mendikbud. Mimpi Anies untuk menjadi Presiden memang mengemuka sebelum Ia menjadi timses Jokowi-JK. Bahkan saat Ia “dipecat” dari jabatan terhormatnya dari Mendikbud, birahi politiknya terus membuncah dengan ikut Pilgub DKI Jakarta saat ini.

Anies mensponsori organisasi profesi guru yang baru berumur 6 tahun untuk dijadikan alat mencapai pencitraan dirinya. Organisasi profesi guru baru ini merupakan boneka birokrasi yang sedang berkuasa saat itu dan kini mendapat kesempatan emas untuk melakukan manuver terhadap organisasi profesi lainnya. Organisasi boneka buatan birokrasi ini telah menjelma menjadi kekuatan baru yang agresif karena disponsori birokrasi, sebelumnya tertidur tak bernyawa.

Menarik melihat agresifitas organisasi boneka dengan uniform baju putihnya cukup mengagetkan. Satu upaya cerdik yang dibuat oleh organisasi boneka ini adalah berupaya keras melaui Dirjen GTK dan timnya dalam HGN dan HUT PGRI ke 71 Tahun 2016 berusaha keras agar semua undangan yang masuk SICC harus menggunakan baju putih. Ini sebuah strategi cerdik karena uniform organisasi boneka ini adalah baju putih.

Bila semua undangan berbaju putih maka seolah-olah semua yang hadir adalah keluarga organisasi bonekanya. Namun bila undangan yang hadir dibolehkan menggunakan baju selain warna putih maka organisasi boneka ini jelas akan terlihat sedikit dan kurang percaya diri. Kerjasama Mendikbud, Dirjen GTK dan jajarannya cukup baik walau tak seirama dengan Presiden dan Ibu Negaranya.

Rencana cerdik untuk menciptakan semua guru berbaju putih, Dirjen GTK berbaju putih, Mendiknas berbaju putih hampir berhasil bila Presiden dan Ibu Negara berbaju putih. Diluar dugaan Presiden dan Ibu Negara BERBAJU PGRI. Rencana Kudeta Putih gagal total. Mimpi organisasi profesi guru boneka ini menghendaki saat acara HGN dan HUT PGRI ke 71 semua yang hadir berbaju putih dan semua yang memberi sambutan berlatar belakang organisasi bonekanya.

Lucu dan terlihat sangat norak ketika Presiden memberi sambutan dengan baju PGRI latar belakang layar di podium adalah nama organisasi boneka. Ini seolah “menampar” Presiden sebagai simbol negara. Ini sangat memalukan dan tak beretika maka tidaklah heran Mendikbud terlihat hampir tak mampu menguasai diri karena Presiden sebagai “majikanya” menggunakan baju PGRI sementara Ia sendiri berbaju putih.

Terlihat dan terasa dengan jelas sambutan Plt. Ketua Umum PB PGRI Dr. Unifah Rosyidi begitu menyentuh dan seirama dengan audien bahkan banyak anggota PGRI yang meneteskan air mata. Namun, sambutan Mendikbud Prof. Muhadjir terlihat tak “bernyawa” bahkan sebagian guru berkomentar melihat Mendikbud bukan berusaha menyampaikan pidatonya tapi lebih berusaha menguasai mentalnya karena merasa ada yang salah.

Sepertinya Mendikbud memikirkan “Baju Putihnya” dibanding apa isi pidatonya. Kudeta Baju Putih dengan latar belakang podium nama organisasi boneka gagal total. Biasanya Pak Mendikbud berpidato bersemangat dan berkarakter namun saat Kudeta Baju Putih gagal Ia nampak grogi dan serba salah. Mendikbud dengan Dirjen GTK sebaiknya berpikir 1000 kali dalam menerima masukan dari pihak lain.

Tugas utama Mendikbud dan Dirjen GTK yang ditekankan Presiden Jokowi adalah masalah peningkatan layanan pendidikan berkaitan masalah KIP, dan vokasi SMK, pendidikan di daerah bukan lebih ”berbirahi” ngurus organisasi profesi. Organisasi profesi sudah mandiri sejak tahun 1912, sebelum kemerdekaan. Jangan memecah belah organisasi profesi tapi pecahkan, belah masalah KIP, Vokasi SMK, Pendidikan di daerah, TPG, UN dll. Jangan salah skala prioritas kecuali tidak takut jabatan dicopot.

Sekali lagi Gagalnya Kudeta Baju Putih pada hakekatnya adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Anggota PGRI yang berada di semua pelosok negeri jumlahnya jutaan tidak mungkin menanggalkan batik PGRI-nya. Batik adalah khas Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia. Bila tanpa PGRI maka HGN tahun ini hanya akan diisi oleh 3000 an guru.

Bersama PGRI maka HGN tahun ini semarak dan tak tertampung sehingga meluap ke luar ISCC. Batik PGRI seolah menutupi megahnya SICC sementara baju putih organisasi boneka buatan birokrasi yang berniat mengkudeta hampir tak terlihat.
Terimakasih Bapak Jokowi dan Ibu Iriana yang terlahir dari keluarga anggota PGRI. Mertua Jokowi adalah anggota PGRI, Kakak Ibu Negara adalah seorang anggota PGRI sejati. Jokowi adalah PGRI dan PGRI adalah Jokowi. Uniform harga mati!!!

RENCANA KUDETA GAGAL Karena usaha seseorang yang berdarah-darah berhasil menyelinap di lorong sempit yang hampir tak mungkin dilakukan...DNK
=========================
Status yang di posting di Group FB PB PGRI ini menimbulkan reaksi provokatif dari anggota group itu sendiri, contoh dari:


Pemilik akun Betna Adiguna, menjawab status tulisan ini dengan kata-kata: Diawal anis Baswedan dalam pembahasan, terus yg dibawah prof. Muhadjir,,,lha apa masih terbawa sampai sekarang organisasi yg katanya "boneka" itu?

Kemudian pemilik akun atas nama Samsul Pahmi, menjawab status ini dengan kata: NGOMONG GAK BERDASAR MAH ANAK TK AJA BISA,ASBUN, NGOMONG KAYAK MULUT COMBERAN YANG ISINYA.......

Kemudian Dyah Metianing mengatakan: menurutku, punya "birahi" itu manusiawi..... tandanya mau maju dan punya tujuan lalu membuat cara bgmn bisa tercapai tujuan tersebut. contohnya nih, yang sudah eksis di tkt kabupaten, pasti selanjutnya ngincar tkt prov...lalu ngincar tkt nasional......dst-dst.... Ya kan?
Comments
0 Comments

0 komentar