PGRI Diaborsi Perlahan, Bahan Renungan Menjelang HUT PGRI Ke 71 Tahun 2016

Bahan  Renungan  Menjelang  HUT PGRI 71

PGRI Diaborsi Perlahan!!!
Oleh : Dr (Cand) Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Upaya “menggeser” eksistensi PGRI  sebagai anak kandung  revolusi kemerdekaan yang dianggap dominan sebelumnya nampak sangat jelas terlihat di Kemendikbud sejak Anies Baswedan. Melalui tangan dingin Dirjen GTK  yang saat ini masih “bergerilya” terus berupaya membungkam PGRI. Tahun 2015 Dirjen GTK sukses “membungkam”  PGRI dari seremoni HGN yang sudah setiap tahun diadakan bersamaan dengan HUT PGRI. HUT PGRI dan HGN yang disatukan adalah panggung utama PGRI yang harus dihentikan, agar organisasi profesi lain dapat menyalip dan PGRI lenyap.

Ketentuan semua peserta HGN tahun 2015 harus menggunakan  baju putih sebenarnya  bertujuan  “melenyapkan” uniform PGRI yang terbiasa mendominasi HGN dan HUT PGRI. Realitas terbalik justru  dalam HGN tahun 2015  organisasi IGI bentukan Mendikbud menebar baliho, menggunakan baju uniformnya dan membuka pendaftaran untuk menjadi anggota IGI di momen HGN,  anggotanya tak menyadari bahwa IGI secara tersembunyi akan dijadikan kendaraan Anies Baswedan untuk kelak menjadi Presiden.

Hari ini nampak  dengan jelas “birahi” politik Anies Baswedan  masih menyala dan begitu semangat mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI. Kursi Presiden tetap menjadi mimpinya dengan berusaha menjadi Gubernur DKI dahulu di Pilgub saat ini. Awalnya Ia mau meloncat jadi Presiden melalui karir cemerlang sebagai Mendikbud dengan mesin cerdas IGI-nya.

 Sepandai-pandainya Anies Baswedan meloncat akhirnya akan jatuh juga, “birahi” politik Anies akhirnya tercium juga, jabatan Menteri Pendidikan dijadikan “panggung” pencitraan politik organisasi profesi dengan IGI-nya. Presiden memahami “maladministrasi” yang dilakukan Anies Baswedan, seharusnya Ia mensukseskan KIP dan program pendidikan nasional malah mensukseskan pencitraan dirinya.

 Kembali pada judul tulisan di atas RELAKAH PGRI DIGESER!!! Jawabannya tentu tidak! Jargon PGRI abdi, PGRI adalah kita. PGRI yang terlahir dari idealisme dan rahim revolusi kemerdekaan tentu menolak “diaborsi”. PGRI bukan organisasi baru bentukan birokrasi demi kepentingan seseorang untuk menjadi penguasa. PGRI adalah rumah bersama guru dari pelosok desa sampai ibukota.

 Hal sederhana yang dapat dilakukan dalam menolak dan melawan upaya menggeser PGRI  dari panggung nasional diantaranya adalah dengan memanfaatkan momen HUT PGRI dan HGN di ISCC Sentul tanggal 27 Nopember 2016 dengan people power PGRI. Walaupun ruang terbatas hanya menampung 10.000 guru dari berbagai organisasi profesi (IGI, FSGI, FGII dan Pergunu)  dan PGRI dijatah hanya 4000 guru yang dapat masuk maka sebaiknya anggota PGRI memenuhi lapangan parkir dan halaman ISCC.

 Anggota PGRI yang hadir di ISCC yang tak tertampung menjelaskan bahwa sebenarnya organisasi profesi PGRI adalah the real organisasi profesi guru di Indonesia. Presiden dan para pejabat terkait yang hadir akan melihat lautan anggota PGRI diluar gedung ISCC.  Membludaknya anggota PGRI yang tak tertampung di ISCC akan menjadi bahan perenungan Presiden dan semua pihak yang berupaya membungkam PGRI dan mengabaikan perjuangan PGRI.

Menurut saya sebagai anggota PGRI,  kita tidak harus berbicara kapasitas ISCC dan mengurangi/membatasi anggota PGRI yang akan hadir tetapi penuhi ISCC luar dan dalam sebagai wujud loyalitas anggota. Kapasitas tak harus membungkam loyalitas  dan animo untuk bersama dalam HUT PGRI dan HGN. HUT PGRI dan HGN ibarat reuni, silaturahmi, rekresai, people power, citra kekompakan PGRI dan sensasi kePGRIan. Jangan kalah sama bonek sepak bola yang selalu memenuhi setiap ada turnamen jagoannya.

 Sebaiknya anggota PGRI mampu tertib di luar ISCC mengikuti prosesi HUT PGRI dan HGN. Beberapa baliho, tulisan suportif, gambar Presiden dan dukungan pada pemerintah harus mengemuka. Ini sebagai bagian dari daya tawar PGRI terhadap penguasa agar PGRI dan misi perjuangannya dapat diterima. PGRI harus memperlihatkan kekuatannya karena pemerintah perlu dukungan kekuatan dari PGRI.

 Celaka besar!!! Bila Presiden Jokowi dan Mendikbud serta pejabat yang lain melihat bahwa PGRI jumlahnya sedikit tapi organisasi lain terlihat lebih banyak dan kompak. Ini sebuah kecelakaan yang sebenarnya dikehendaki oleh Sang Dirjen. Bukankah menjelang HUT PGRI Sang Dirjen begitu intensif “menyerang” PGRI di media Kompas dan media lainnya?

 Lawan segala bentuk pembungkaman terhadap PGRI. Plus introsfeksi  kolektiflah kita  dari serangan dan kritik keras mereka yang mengatakan  bahwa PGRI di urus oleh para orang-orang tua pensiunan, para pejabat yang bukan guru, transparansi keuangan yang belum baik, digunakan untuk kepentingan politik, tidak akomodatif dan menjadi milik guru SD.

Tanggal 27 November 2016 di Sentul International Convention Centre (SICC)  adalah tanggal  cukup penting dan menjadi wajah perjuangan organisasi PGRI. Bila SICC penuh tak tertampung oleh anggota PGRI menjelaskan bahwa ada kerinduan pada Presidennyan dan ghiroh keorganisasian masih kuat.
Kebersamaan dalam sebuah acara hari ulang tahun sebuah organisasi akan memanggil anggotanya yang memiliki ghiroh organisasi. Kehadiran  di SICC adalah simbol loyalitas dan militansi organisasi.

 Alangkah indahnya bila Presiden melihat anggota PGRI menyemut di SICC dan terlihat wajah-wajah yang  merindukan kehadirannya. Ini sangat positif mengingat Presiden saat ini sedang galau karena ada kegaduhan politik yang mentarget dirinya. Anggota PGRI harus memberi dukungan moril agar Presiden sebagai simbol negara tetap bertugas dengan  nyaman.

 PGRI sudah ada sebelum NKRI ada sejak tahun 1912 dalam nama PGHB. PGRI pemilik dari sejarah organiasi profesi di Indonesia. Lucu sekali bila ada organiasi lain sejenis IGI, FGII, FSGI, Pergunu dll. yang merayakan ulang tahunnya di tanggal 25 November. Merayakan ulang tahun di tanggal kelahiran organisasi lain adalah sebuah dagelan paling memilukan dan memalukan karena konon katanya mereka adalah para organisatoris dan mayoritas sarjana.

Lebih lucu lagi pengurus organisasi selain PGRI itu telah hidup dari dana TPG yang diperjuangkan oleh PGRI. Sangat anomalis dan terlihat lepas etika. Organisasi profesi guru selain PGRI ibarat sosok Malin Kundang. Murtad dari keluarga, melupakan ibu kandung organisasinya yang telah memberi nyawa TPG.

Banyaknya bermunculan organisasi profesi guru adalah dinamika paling memalukan bagi dunia guru. Ini menjelaskan ada ketidakharmonisan di internal profesi guru dan ada barisan sakit hati yang tidak suka pada PGRI. PGRI telah dicuri TPGnya, dicuri HUTnya, dicuri HGNnya dan dicuri jamaahnya. Relakah PGRI digeser ke ujung jurang kehancuran?


MOHON  DISEBARKAN!!!


PGRI.info hanya mengabadikan tulisan-tulisan yang beredar di facebook, twitter, supaya guru Indonesia semakin cerdas mau membaca informasi tidak hanya dari salah satu pihak, tapi dari kedua pihak, yang selanjutnya dikembalikan ke diri pribadi Guru masing-masing supaya bisa mengambil sikap untuk lebih baik, tidak ada maksud memecah belah persatuan Guru di Indonesia.
Comments
0 Comments

0 komentar